Minggu, 20 September 2020

Obat Patah Hati

    segala penyakit yang ada di dunia ini, sudah pasti ada obatnya. tapi untuk patah hati, obatnya sulit sekali untuk di temukan. barangkali seperti, menghapus tinta yang mengenai kain putih. ya, memang akan hilang, tetapi akan selalu membekas. sama seperti hati, jika sudah perkara patah, untuk sembuh pun juga perlu waktu. aku pernah patah, pun denganmu. kita pernah sama-sama patah hati dan aku menikmati itu. walau perlu waktu yang panjang untukku kembali utuh. seseorang pernah berkata padaku, begini; laki-laki itu banyak. kamu tidak perlu membuang waktumu hanya demi satu laki-laki. bermiliar-miliar manusia, kenapa harus menetap di satu laki-laki yang belum tentu mampu membuatmu bahagia? setelah menerima kalimat itu, aku mengerti apa yang ia maksud. aku memikirkan setiap kata-kata itu di dalam kepalaku, tapi hatiku? tidak. tidak akan mudah. 

    bahkan sampai detik ini, ketika aku menulis kalimat ini, aku masih memikirkan laki-laki itu. mungkin pula, alasanku menulis ini adalah dirinya. karena bagiku, dia adalah pemantik yang selalu menjadi sumber segala ideku. kehilangannya menjadi pembelajaran yang begitu berharga sekaligus menyakitkan. menjatuhkan hatiku selama lebih dari sepuluh tahun padanya bukanlah hal yang mudah, aku seperti membiarkan tubuhku masuk ke dalam portal yang sengaja menelanku hidup-hidup dan bahkan tanpa jawaban. jika kamu bertanya adakah penyembuh untuk patah hati? aku bahkan tidak tahu sampai detik ini. 

    aku sudah kehilangannya bahkan sejak hari dimana aku memilih untuk mengakhiri segalanya. mungkin juga dia bahagia, karena akhirnya aku merasakan apa yang dulu sempat ia rasakan. apa yang aku dapatkan, rasakan, boleh jadi hukuman. karena, aku pernah sengaja mematahkan harapan-harapan yang ia buat untukku. 

    terkadang, kita perlu untuk menyelamatkan diri kita sendiri. siapa lagi yang harus menyelamatkan diri kita sendiri, kalo bukan kita? karena, jika kamu kehilangan dirimu, kamu telah mematahkan segalanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Tenggelam

Tenggelam “Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak menyukaimu, tapi karena dia mencintaimu”. Kalimat itu keluar dari mulut Diana—sahab...