Minggu, 20 September 2020

Cerpen : Tenggelam

Tenggelam


“Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak menyukaimu, tapi karena dia mencintaimu”.

Kalimat itu keluar dari mulut Diana—sahabatku sekaligus rekan kerjaku di sebuah motel yang terletak di tengah-tengah pulau yang jauh dari perkotaan. Biasanya beberapa pelaut sering kali singgah untuk sekadar menikmati jamuan makan malam atau mencari tempat untuk istirahat. Aku sudah bekerja di pulau ini sejak lulus SMA atau lebih tepatnya ketika Ibuku dengan sengaja mengirimku ke tampat terpencil ini. Aku tahu  keluargaku sedang butuh uang, tapi mengirimku ke tempat ini adalah hal yang paling aku benci sebelumnya.

“Dia jelas-jelas meninggalkanku, tandanya dia tidak peduli, Diana,” ucapku setelah selesai mencuci piring di dapur.

Diana melepaskan celemeknya.”Kamu salah, Marrien. Menurutku, wajar saja dia meninggalkanmu. Karena, yang ingin memilikimu tidak hanya dia saja.”

Seseorang yang sedang kami bicarakan ini adalah Minke—pria yang memiliki hubungan cukup dekat denganku. Karena, sejak awal kehadiranku di pulau ini, ia termasuk orang yang paling sering membantuku, apapun itu. Hingga aku menemukan sebuah fakta bahwa ia menghilang sehari setelah kami saling jujur tentang apa yang sudah kami rasakan selama lima tahun bersama tanpa status. Minke menghilang sudah hampir dua bulan, aku bahkan tak tahu ia sekarang berada dimana atau sedang bersama siapa. Setiap saat aku selalu berpikir bahwa kepergiannya adalah sesuatu yang ia sengaja lakukan, namun Diana selalu mengatakan padaku bahwa kepergian Minke adalah salah satu bukti untuk membuatku tetap aman.

“Apa kamu lupa, Mar?” ucap Diana.”Pelaut yang waktu itu hampir saja menculikmu, kamu lihat betapa beringasnya Minke menghajar pelaut itu,” kalimat itu membuatku menoleh kearah Diana.

“Ya, aku tau. Lalu?”.

 

“Itu tandanya Minke sangat mencintaimu, dia tidak ingin ada orang lain yang menganggumu. Boleh jadi, kepergiannya ini untuk membuatmu baik-baik saja. Seharusnya kamu juga sadar, jika kalian masih bersama, tidak hanya kamu saja yang di ganggu tapi Minke juga.”

Aku ingat betul kala itu, malam dimana Minke hampir saja di bunuh oleh seorang nahkoda yang mencoba menggangguku. Ketika itu yang ada di dalam pikiranku hanya; bagaimana cara untuk mengentikan pertengkaran antara dua lelaki yang sudah kalap itu? Seluruh orang menyalahkanku, terlebih pemilik pulau yang hampir saja mengusirku. Tapi, berkat Minke pula aku selamat. Minke seperti pangeran yang siap pasang badan untuk menyelamatkanku, namun kini aku telah kehilangannya. Dimana kamu sekarang, Minke?

Malam-malam yang kulewati seorang diri rasanya begitu hampa. Setiap malam, aku duduk di bibir pantai sembari memperhatikan lautan, barangkali Minke akan datang dengan sebuah kapal pesiar besar yang sejak dulu selalu ia impikan. Ia pernah berkata padaku, begini;

“Aku ingin memiliki kapal pesiar yang mewah, Mar,” ujarnya. “Untuk siapa?”

“Untukmu dan untukku. Untuk kita bersama,” jawabnya.

 

Penantianku rupanya masih belum terwujud hingga malam ini, tepat tiga bulan Minke menghilang. Segala hal sudah aku lakukan, mulai dari bertanya dengan rekan kerjanya sesama kru kapal tempat mereka bekerja, jawabannya juga tak ada yang tahu keberadaannya. Salah seorang temannya bernama Baron, mengatakan bahwa ia melihat Minke pergi ke pelabuhan pada dini hari bersama dengan beberapa orang. Baron mengatakan bahwa Minke masuk ke dalam kapal bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah ia temui itu. Aku berpikir Minke telah di culik dan aku adalah penyebab kehidupannya menjadi rumit.

“Marrien!” seseorang memanggilku dari arah belakang.

“Kamu rupanya Baron?” ucapku ketika mendapati Baron menghampiriku,”Ada apa?”. 

“Aku dapat kabar dari temanku, dia bilang Minke berada di kapal yang sama dengannya,” ucap Baron.

“Benarkah? Lalu, bagaimana?” ucapku penuh semangat.


“Besok pagi, kapal itu akan singgah ke pulau ini. Itu kesempatan yang bagus untuk mencari keberadaan Minke, aku curiga ada orang jahat yang sengaja menyembunyikan Minke.”

Dan setelah itu, pagi-pagi sekali aku memperhatikan pelabuhan yang sudah di isi oleh kapal pesiar yang cukup besar. Apa yang di katakan Baron tadi malam rupanya benar-benar terjadi, bagaimana pun caranya aku harus bisa masuk ke dalam kapal itu dan menemukan Minke. Beruntung aku memiliki wajah yang mempesona, sehingga mudah saja bagiku untuk merayu para pelaut sialan yang mungkin saja telah menyembunyikan Minke. Aku bahkan tak perlu susah-susah menarik perhatian mereka, justru merekalah yang datang menawarkan minuman padaku. Kesempatan bagus.

“Mimpi apa aku semalam, bisa duduk bersama perempuan secantikmu, Mar,” ucap pelaut yang aku ketahui bernama Bargaz itu. Sebelumnya, Bargaz juga sempat berselisih paham dengan Minke. Dan, tentu saja itu semua terjadi karena diriku.

“Sudah menjadi pekerjaanku melayani pengunjung,” jawabku.

“Hanya saja aku takut akan ada yang menghajarku lagi?” ucap Bargaz.

Aku mulai curiga, kenapa ia tiba-tiba mengarahkan pembicaraan seolah-olah menyiratkan sesuatu.”Oh, kamu ingin bertemu dengan Minke?” ucapku.

Bargaz mengalihkan pandangannya, aku bisa melihat betapa tatapan itu menyimpan kegelisahan.

“Tapi kamu tidak perlu takut. Minke sudah hilang entah kemana dan aku ingin mencari penggantinya,” ucapku.

“Sungguh?” ucap Bargaz sembari menampilkan senyumannya.

“Ya, tentu saja. Aku sudah bosan berada di tempat ini, seandainya ada orang yang bisa mengajakku keluar dari tempat ini, aku ingin segera angkat kaki.”

Tak hanya mengumpulkan barang-barangku saja, tetapi aku juga  harus mengumpulkan seluruh keberanian untuk bisa menemukan Minke. Aku tak bisa menjamin nyawaku aman-aman saja ketika masuk ke dalam kapal itu, bisa jadi ketika aku ikut bersama Bargaz yang kudapat justru penyiksaan. Aku tahu ini tak mudah, Diana dan Baron hanya memperhatikanku dari ambang pintu kamar, berulang kali mereka mengatakan untuk tetap tinggal di pulau sampai Minke kembali pulang. Namun, itu bukanlah pilihan, keputusanku sudah mutlak.

“Semoga kamu berhasil, Mar,” ucap Diana sambil memegang tanganku dengan erat, ia seolah menyiratkan segenap kekhawatiran padaku.

“Temukan Minke dan kembalilah ke pulau dengan selamat,” tambah Baron.

                Bargaz telah menungguku di pelabuhan, ia tampak girang sekali. Aku melangkahkan kaki menuju kapal yang seolah siap menelan tubuhku hidup-hidup. Mungkin akan kutemukan nyawaku yang hilang di dalam kapal itu, Minke, aku datang untuk menjemputmu. Lalu, untuk terakhir kalinya aku menatap pulau yang sudah memberiku banyak cerita. Aku melambaikan tangan kearah Diana dan Baron yang masih berdiri di pelabuhan.

Akan sulit jika aku dengan terang-terangan bertanya tentang Minke kepada kru kapal yang ada di sini. Mungkin juga mereka sudah di beri peringatan oleh Bargaz untuk tak mengatakan apapun padaku. Aku memutuskan untuk mencari Minke sendiri.

“Boleh aku berkeliling?” tanyaku pada Bargaz yang sejak tadi berdiri di sampingku.

 “Akan kutemani,” ucapnya.

“Kamu ini sudah seperti bodyguard-ku saja,” ucapku sambil meliriknya,”Aku ingin berkeliling sendiri, bisa?”.

Bargaz tersenyum tipis,”Baiklah. Tapi jangan terlalu jauh, jangan berani pergi ke arah belakang kapal. Di sana tempat para pemberontak,” jelas Bargaz.

“Pemberontak?” ucapku bingung.

“Mereka yang sengaja ingin kabur dari dalam kapal.”

Tentu aku semakin penasaran dengan tempat itu, barangkali Minke di sembunyikan Bargaz di sana. Aku melangkah dengan penuh hati-hati, karena jujur saja kru kapal yang ada di sini benar-benar menyebalkan.

“Siapa kamu!” teriak seorang dari arah belakang.

Sial! Lagi-lagi salah satu kru kapal menganggu aksiku. 

“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.

“A-aku hanya berkeliling,” jawabku seadanya.

 

Kru kapal itu menatap wajahku dengan cukup lama, lalu kemudian ia menarik tanganku dan membawaku ke dalam kabin.

“Kenapa lama sekali?” ucap kru kapal itu padaku, aku tentu semakin bingung. 

“Maksudmu?” tanyaku heran.

“Aku temannya Baron,” jawabnya.”Ah, ya, kenalkan namaku Raul.”

 

Aku hampir saja berteriak setelah mengetahui kru kapal itu ternyata adalah teman

Baron.“Dimana kamu melihat Minke?” tanyaku.

           Raul membisikan sesuatu padaku,”Minke berada di ruangan bawah kapal. Di tempat para pemberontak. Ia sengaja di culik, Mar.”

“Aku harus ke tempat itu!” ucapku.

“Tidak semudah itu. Kamu tahu, Bargaz punya kekuasaan di kapal ini. Dia bisa saja membuat Minke celaka atau bahkan melukaimu,” jelas Raul.

“Lalu, aku harus bagaimana? Aku ingin bertemu dengan Minke sekarang.”

 

Raul mengarahkanku untuk pergi ke area bawah kapal, karena di sana Minke berada. Bargaz sengaja menculik Minke dan menjadikannya budak. Aku memperhatikan sekeliling, berharap Bargaz sedang tidak mengawasiku. Dengan langkah penuh keyakinan, aku menyelinap masuk ke dalam sebuah ruangan yang sebelumnya Raul katakan. Ia bilang di area bawah kapal terdapat ruangan yang di penuhi oleh orang-orang yang tidak patuh kepada Bargaz atau yang Bargaz biasa sebut pemberontak.

Tanganku menyentuh ganggang pintu yang sudah berkarat itu, lalu membukanya perlahan. Kedua mataku langsung di sambut dengan segerombol orang yang duduk di ubin kapal dengan pakaian lusuh, bahkan aku melihat seorang anak kecil yang kurus sekali, Bargaz memang manusia biadab! Aku tak berhenti memaki laki-laki itu dalam hati. Semua orang yang ada di ruangan itu kebingungan ketika aku masuk, barangkali mereka berpikir aku korban Bargaz yang kesekian kalinya? Mungkin.


“Nona, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya salah seorang laki-laki yang usianya kira-kira lima puluh tahun.

“Aku sedang mencari seseorang,” jawabku.

 

“Tapi kamu tidak bisa masuk ke tempat ini begitu saja,” ucap laki-laki itu.”Atau, Bargaz akan memberimu pelajaran,” tambahnya.

Aku berlalu begitu saja, seolah tak ingin mendengar konsekuensi yang akan aku dapatkan setelah melakukan tindakan yang cukup berisiko ini. Ruangan yang kumuh itu tak hanya menyembunyikan Minke, tetapi juga orang-orang yang kuyakini tak pantas di hukum ini. Dua jam berada di ruangan ini juga masih belum mampu membuatku menemukan keberadaan Minke, lantas yang ada dalam pikiran hanya; apa Minke benar-benar masih  hidup atau Minke sengaja bersembunyi dariku? Aku duduk di samping pintu sembari memperhatikan orang-orang yang sebenarnya menderita namun berusaha baik-baik saja di dalam ruangan terkutuk ini. Beruntung, sedari tadi aku tak menemui Bargaz mungkin pula laki-laki itu tak peduli dengan apa yang aku lakukan.

“Kamu sedang mencari seseorang?” celetuk perempuan paruh baya dengan jubah hitam di sampingku, aku cukup terkejut seketika melihat penampilan perempuan itu.

“Ya,” jawabku singkat.”Apa aku terlihat seperti mencari seseorang?”.

“Tentu saja, aku bisa melihat itu dari sorot matamu.”

Perempuan paruh baya itu bernama Jellina, seorang ahli kartu tarot yang sebenarnya salah satu penumpang kapal dalam perjalanan menuju perkotaan. Namun, sialnya kapal yang ia tumpangi mengalami pembajakan oleh kapal Bargaz. Ia terpisah dengan suaminya yang kini ia sendiri bahkan tak tahu apakah suaminya selamat atau tidak.

“Apa kamu pernah melihat seorang laki-laki, kira-kira berusia dua puluh lima tahun, matanya sipit dan memiliki lesung pipi?” tanyaku.

Jellina meletakkan kartu tarotnya, lalu menatapku.”Aku tidak yakin, tapi aku pernah melihatnya sesekali. Dia sangat pendiam dan tidak pernah mau bergabung bersama kami, coba kamu pergi ke bilik kamar paling akhir,” ucapnya.

“Baiklah, terima kasih.”


Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju bilik kamar yang Jellina katakan. Ketika aku tiba di depan bilik kamar itu, aku bisa mendengar seseorang sedang bernyanyi persis seperti yang sering kali Minke lakukan setiap kali menungguku selesai bekerja. Aku menemukanmu, Minke! Batinku.

Beberapa saat setelah aku membuka pintu kamar itu. Kedua mata yang saling merindu itu tak mampu menahan segala bentuk perasaan sedih, marah, senang dan bahkan kekecewaan semua melebur menjadi satu rasa. Minke duduk di atas tempat tidurnya sambil mendengarkan lagu dari walkman milikku yang sengaja kuberikan padanya di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga tahun kala itu.

“Marrien? Kenapa kamu bisa ada di sini?” Minke beranjak dari tempat tidurnya, lalu memegang kedua pundakku.”Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Aku memeluk tubuh Minke, menenggelamkan seluruh perasaan rinduku padanya, membiarkan air mataku membasahi pundaknya.”Aku merindukanmu, Minke!” pekikku.

“Tidak apa, aku di sini. Aku bersamamu,” ucap Minke yang berusaha menenangkanku.

Tak cukup hanya dengan berdiam diri di dalam kapal ini, setelah mendengar betapa liciknya Bargaz yang sengaja menculik Minke dan membawanya dengan paksa. Belum lagi perilakunya yang semena-mena terhadap kru kapal dan pekerja lainnya. Maka tak perlu heran jika banyak pemberontak di dalam kapal ini, mereka menjadi pemberontak karena untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri dari Bargaz.

“Sebentar lagi Bargaz pasti akan mencarimu,” celoteh Jellina.

Aku dan Minke duduk bersama Jellina sambil melihat perempuan itu memainkan kartu tarot miliknya, bahkan beberapa orang yang ada di ruangan ini kerap kali meminta Jellina untuk meramal kehidupan mereka.

“Mungkin Bargaz juga akan menjadikanku pemborantak, itu tidak masalah,” jawabku. 

Jelline tersenyum.”Kalian, pilihlah satu kartu,” pintanya.


Minke menatapku,”Pilih lah,” ucapnya.


Aku mengambil salah satu kartu,”Ini,” ucapku lalu memberikan kartu itu kepada

Jellina.

 

Jellina menatapku dan Minke bergantian,”The Wheel of Fortune. Kalian akan menemukan takdir yang membawa kalian pada akhir masalah, namun aku tidak yakin apakah gerakan ini membawa kalian pada kebahagiaan atau rasa sakit?” ucapnya.

Brak! Tiba-tiba saja suara pintu terbuka hingga terdengar sangat nyaring, seperti sengaja di tendang begitu saja. Mataku hampir saja tak percaya, Bargaz berdiri di ambang pintu ruangan dengan beberapa anak buahnya. Tak perlu waktu lama, Bargaz langsung menghampiriku dan juga Minke. Terlihat ia mencoba untuk menahan rasa marahnya, kedua matanya menatapku seperti mengatakan; akan kubunuh kamu!

“Bawa laki-laki ini keluar!” perintah Bargaz kepada anak buahnya.

 

Aku menarik pergelangan tangan Minke,”Jangan bawa dia!” ucapku memohon.

 

“Dan kamu, Marrien! Sini kamu!” Bargaz menarik pergelangan tanganku dengan kasar. Seluruh orang yang ada di dalam ruangan tak tahu harus melakukan apa, mereka hanya diam dan berharap tak akan ada korban selanjutnya yang berhujung pada kematian seperti yang lalu-lalu.

Bargaz menggiring kami menuju bagian stem—linggi haluan atau bagian depan kapal. Minke berdiri tepat di ujung haluan kapal dengan kedua mata tertutup kain. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan anak buah Bargaz, namun aku tak mampu melawan mereka.

“Lakukan apa yang aku perintah!” teriak Bargaz.

 

“Jangan lakukan itu Bargaz, aku mohon!” aku masih berusaha membujuk laki-laki itu untuk tidak mencelakai Minke.”Aku yang salah, bukan dia,” lirihku.

Aku tertunduk lesu, melihat bagimana Minke sudah tak berdaya di sana. Ia seperti membiarkan dirinya mati sia-sia di tangan Bargaz hanya demi menyelamatkanku.

“Tidak masalah jika aku mati, Mar. Kamu tidak perlu menangisiku, aku akan menjadi laki-laki yang paling menyesal di dunia jika membiarkanmu terluka!” ucapnya dengan suara getir.


“Dorong laki-laki brengsek ini sekarang!” perintah Bargaz tanpa mempedulikan permohonanku.

“Tidak!” teriakku dengan nyaring.

 

Aku berlari menuju linggi haluan kapal dan menatap Minke yang mungkin saja masih ada di bawah sana,”Tidak...tidak! Minke jangan tinggalkan aku...” lirihku sambil terus menangis histeris.

“Sudahlah, kamu tak perlu menangisi pecundang itu. Kamu bisa hidup dengan nyaman bersamaku,” ucap Bargaz sembari menampilkan senyuman sialannya itu.

“Akan lebih baik jika aku mati saja, dari pada harus hidup bersama binatang sepertimu. Oh, bahkan, kamu tidak pantas hidup sebagai binatang. Kamu jauh lebih rendah dari sekadar sampah!” ucapku terang-terangan kepada Bargaz.

Lalu, setelah kalimat makian itu kuucapkan pada Bargaz dengan segenap keberanian, aku menjatuhkan tubuhku ke dasar laut bersama dengan sisa-sisa hidupku yang separuhnya telah mati terbawa oleh Minke. Karena, pada akhirnya kematian lah yang menjadi tempat paling aman untukku dan Minke. Seperti yang Jellina katakan, The wheel of Fortune—sebuah roda keberuntungan yang memutar jarum jam, mungkin juga akan naik atau jatuh. Lantas, pada akhirnya takdir yang kupikir akan berakhir baik dan bahagia ternyata tak dapat kutentukan hanya dalam kata-kata. Membiarkan tubuhku tenggelam perlahan-lahan, kedua mataku yang semula menatap langit biru perlahan memudar menjadi gelap dan setelah itu aku merasa tanganku seperti di tarik dari lubang yang barangkali akan membawaku keluar pada kematian.

Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk hidup, Minke?”, 

“Ya, tentu saja, Mar. Aku akan mewujudkan mimpi kita bersama".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Tenggelam

Tenggelam “Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak menyukaimu, tapi karena dia mencintaimu”. Kalimat itu keluar dari mulut Diana—sahab...