Minggu, 20 September 2020

Cerpen : Kepribadian Ganda

Kepribadian Ganda

 

Bagaimana jika aku mengatakan bahwa cinta itu hal yang paling menyusahkan dan rumit? Aku yakin, kalian akan setuju. Untuk kali pertama, aku mengenal sekaligus menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang aku temui di pesta ulang tahun sahabatku.  Sahabatku mengenalkan laki-laki ini padaku tanpa sepengetahuanku.

“Bicaralah dengannya, Alectya.” “Maksudmu?” ucapku kebingungan.

“Aku sudah merencanakan ini, jadi kumohon lakukan apa yang aku minta.”

 

Laki-laki itu bernama Pragma. Tampan, tidak banyak bicara, sejauh ini kupikir dia juga romantis, namun terkadang aku bisa saja tidak mengenalnya dengan baik. Karena, setelah hubungan kami berjalan selama tiga tahun, aku menerima fakta mengejutkan bahwa kekasihku itu menderita penyakit Dissociative identity disorder atau yang lebih akrab dengan sebutan kepribadian ganda.

“Akan lebih baik jika aku tidak ada di tempat ini.”

 

Kalimat itu terucap dari mulut Pragma setelah kami selesai makan malam, bukannya menyenangkan yang ada justru sebuah pertanyaan yang aku yakini datangnya bukan dari Pragma. Selama ini aku sering menemani Pragma konsultasi dengan dokter psikiater yang selama ini menanganinya, Dokter Zya—ahli psikiater itu bilang bahwa Pragma memiliki tiga kepribadian di dalam dirinya. Ada saat-saat tertentu yang mampu membuat kehadiran identitas alternatif di dalam tubuh Pragma muncul, yakni ketika ia merasa cemas, marah, sedih dan bahkan emosinya yang tidak terkontrol mampu membuat Pragma berubah menjadi seseorang yang ketika aku melihatnya membuatku sangat ketakutan.

“Dengan siapa aku bicara?” ucapku. “Kamu tentu tau siapa aku,”

“Itu kamu, Magenta?” tanyaku.

 

Malam ini, bayanganku hanya tentang perayaan hari jadi kami yang ke empat tahun. Namun, sebagai seorang perempuan yang rela jatuh cinta pada laki-laki pengidap penyakit


kepribadian ganda ini, membuatku tersadar bahwa hal-hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-sehari dan harus kuterima apapun risikonya.

“Aku tidak suka tempat ini, kamu tau kenapa?”.

 

Aku terdiam, mencoba untuk menebak pertanyaan yang keluar dari mulut kekasihku yang aku tahu itu bukan dirinya yang sebenarnya. Kini aku sedang berbicara dengan Magenta, identitas alternatif itu hadir tanpa di undang dan hal ini cukup membuatku risih.

“Kenapa?” tanyaku. “Tempat ini terlalu berisik.”

Yang ada di dalam pikiranku hanya; apa yang harus aku lakukan ketika ada di situasi ini? Ketika di situasi seperti ini, aku selalu menangis setelahnya. Pragma hanya  terdiam setiap kali aku menangis karena kejadian ini, ia mungkin juga tidak tahu harus melakukan apa. Pernah kala itu ia mengatakan padaku kalimat yang sampai saat ini selalu berenang di dalam kepalaku. Ia berkata,”Jika kamu ingin pergi, pergilah. Aku tidak bisa melihatmu terus menangis karena aku.”

“Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

 

“Bagaimana dengan mereka? Aku takut mereka menyakitimu, Alectya.” “Itu pilihanku.”

Identitas yang ada di dalam tubuh Pragma tidak hanya Magenta saja, ada dua identitas alternatif lagi. Menjalin hubungan dengan Pragma membuatku sedikit belajar tentang penyakit ini. Aku pernah membaca sebuah buku dan di dalam buku itu tertulis; identitas yang ada di dalam tubuh seorang pengidap penyakit kepribadian ganda ini sering kali berbeda-beda dalam perilaku, penampilan, jenis kelamin, umur dan bahkan cara bicaranya. Itulah mengapa aku bisa dengan jelas mengenal siapa saja yang hadir secara tiba-tiba di tubuh Pragma, walau terkadang aku lebih banyak terkejut dan sedikit takut.

Untuk kedua identitas yang aku bicarakan tadi salah satunya juga cukup sering hadir, ia bernama July. Seorang perempuan berusia empat puluh tahun dan gemar membaca buku. Tidak heran, hampir setengah kamar Pragma di isi dengan deretan buku yang tertata rapi  pada setiap raknya.


“Sudah lama aku tidak bicara denganmu, Alectya,” ucapnya padaku ketika melihat aku duduk di ruang baca.

Mungkin kalian akan bingung, mengapa mereka bisa hadir secara tiba-tiba di dalam tubuh Pragma. Aku bahkan jauh lebih kebingungan, karena setiap kali menghadapi situasi ini sama halnya dengan membuatku tidak kuasa menahan perasaan yang entah bagaimana begitu menyakitkan. Aku seperti sedang menghabiskan waktuku dengan sia-sia di dunia ini bersama tiga identitas yang bersembunyi di balik tubuh kekasihku. Karena yang aku butuhkan hanya Pragma. Seutuhnya. Tapi apa boleh buat?

“Hai, July. Apa kabar?” tanyaku yang berusaha terlihat baik-baik saja. “Ya, aku sangat baik.”

Penampilan Pragma kini berbeda, ia memakai outer rajut berwarna brown di tubuhnya, karena identitas alternatif ini adalah July—seorang perempuan. Tidak segan-segan July menyentuh rambutku dan mengikat rambutku menjadi dua bagian. Usia July yang menginjak kepala empat membentuk perilakunya yang sangat ke ibuan. Ia bahkan menganggapku, anaknya sendiri.

“Kamu terlihat sangat cantik, wajar saja Magenta menyukaimu.” “Magenta?” tanyaku.

“Ya, dia bilang pada kami, malam itu dia hadir di makan malammu bersama dengan Pragma. Dia bilang, kamu sangat cantik malam itu.”

Magenta memang sering muncul, terlebih ketika Pragma merasa cemas. Di antara ketiga identitas, menurutku Magenta cukup lucu. Dia memang terkesan jutek dan menyebalkan, padahal sebenanrnya dia sangat baik dan juga lucu. Wajar saja, Magenta ini jika di gambarkan adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Setiap kali ia hadir di dalam tubuh Pragma, tingkah lakunya pun juga akan sama seperti anak kecil berusia tujuh tahun.

“Apa kamu masih akan bersama dengan Pragma?” tanya July.

 

“Apa aku harus menjawab pertanyaan yang keluar dari mulutmu itu?,” jawabku. “Jawab saja.”


“Masih,”

 

“Kamu tidak takut?” tanya July. “Untuk apa?”

July mendekatkan wajahnya padaku, lalu berbisik.”Dia akan datang dan membuatmu terluka, jadi kumohon pergilah sebelum dia datang!”.

“Siapa?” aku berusaha bertanya pada July, walau aku tahu yang ia maksud. “Gerion.”

Setelah mendengar nama itu, aku menangis. Selama ini aku seperti  membiarkan diriku sendiri masuk ke dalam portal yang membawaku terus masuk ke dalam dunia Pragma yang bahkan aku sendiri tidak yakin untuk tetap bertahan atau angkat kaki dari hubungan ini. Setiap kali teman-temanku bertanya mengapa aku masih bertahan padahal aku tahu Pragma tidaklah baik untukku, jawabanku hanya; karena ketika aku melepaskannya, aku tidak yakin akan menemukannya pada diri orang lain.

Tangan yang hangat itu menyentuh bahuku,”Kamu baik-baik saja?”.

 

Aku mengusap air mataku yang sudah membanjiri kedua pipiku dan yang kulakukan ketika mendengar suara itu adalah memeluknya.

“Aku disini, Alectya. Semua baik-baik saja, maaf karena sudah membuatmu merasa tidak nyaman.”

“July bilang padaku, Gerion akan datang,” ucapku sambil terus memeluknya.

 

“Aku tidak akan membiarkan Gerion menguasai tubuhku. Aku janji,” ucap Pragma. “Aku jauh lebih takut dia melukaimu, Pra.”

“Dan aku tidak akan membuatnya hidup di dalam tubuhku.”

 

Barangkali kehadiranku di dalam kehidupan Pragma menjadi satu-satunya penawar baginya. Dokter Zya pernah mengatakan hal ini padaku, ia bilang apa yang sudah Pragma lalui sangatlah berat, terlebih masa lalunya yang kelam. Dari masa lalunya yang kelam itulah, menciptakan dirinya yang sekarang. Perlakuan Ibu tirinya ketika ia kecil, membuat Pragma harus hidup menderita bahkan sampai ia menginjak usia dewasa. Gerion—identitas yang


paling jarang muncul itu adalah cerminan perilaku Ibu tiri Pragma yang memiliki sifat pemarah, kejam dan tidak segan-segan melakukan tindakan kriminal. Beruntung, Pragma masih mampu menahan dirinya untuk tidak di kuasai oleh Gerion. Seperti yang Dokter Zya katakan padaku; jika sesuatu yang terjadi apalagi bersangkutan dengan masa lalu Pragma, tolong jauhkan dia dari hal itu, karena ini bisa membuatnya merasa terancam. Kalimat itu selalu aku ingat, aku tidak ingin hal yang selama ini tidak aku inginkan terjadi. Tidak akan pernah.

Hari ini aku mengajak Pragma untuk pergi ke suatu tempat, barangkali bisa membuatnya merasa jauh lebih baik setelah hampir setiap minggu melakukan pemeriksaan rutin bersama dengan Dokter Zya akhir-akhir ini. Aku sengaja mengajaknya ke puncak, karena aku tahu ia perlu hiburan untuk dirinya sendiri. Setelah menaiki kereta sekitar dua  jam, kami tiba di kebun teh yang ketika pertama melihatnya sudah membuat kedua mata  kami takjub tidak berkedip.

“Indah sekali,” ucapku sambil menggandeng tangan Pragma lalu mengajaknya berkeliling.

Matahari seolah membakar langit yang membuatnya menjadi jingga merona, sesekali aku mengambil potret menggunakan kamera analog yang sengaja aku bawa untuk mengabadikan momen ini. Kuperhatikan wajah Pragma, aku bisa melihat tatapan itu, tatapan yang selama ini pun juga menjadi pertanyaan di dalam kepalaku; apa kamu baik-baik saja? Begitulah kira-kira.

Menyandarkan kepalaku di pundak Pragma membuat lamunannya buyar.”Pra, bagaimana jika justru kamu yang pergi meninggalkanku?” tanyaku.

“Kamu sendiri tau, jika itu terjadi berarti demi kebaikanmu.”

 

“Sejak awal aku mengenalmu, segala yang ada pada dirimu sudah menjadi pilihanku.”

 

Pragma menggenggam erat tanganku.”Maaf, karena aku tidak terlahir sempurna untukmu,” ucapnya.

Ini benar-benar menyiksaku, rasanya sakit sekali setiap kali mendengar Pragma menyalahkan dirinya sendiri. Tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa menyalahkan apa yang terjadi. Aku dan Pragma hanya bisa berharap pada setiap hari-hari yang kami lewati, akan selalu baik-baik saja.


Terlalu banyak hal yang mereka tanyakan padaku setiap kali aku menghadiri acara tahunan bersama alumni teman-teman kampusku, bahkan kalimat yang menurutku tidak pantas keluar pun juga mereka tanyakan; bagaimana rasanya jadi kekasih laki-laki sakit jiwa seperti Pragma? Kalimat itu keluar dari mulut salah satu temanku. Dan, yang aku jawab hanya sebuah senyuman yang sebenarnya memiliki makna jauh lebih besar dari kalimat panjang lebar yang kadang-kadang aku keluarkan setiap kali sudah tidak tahan mendengarnya. Aku tidak peduli pandangan mereka terhadapku ataupun Pragma seperti apa, karena mereka tidak pernah tahu rasanya menjadi aku seperti apa. Pragma selalu mengatakan bahwa aku cukup kuat untuk bertahan dengannya sejauh ini.

Setelah menghabiskan waktu sambil menikmati sunset, aku mengajak Pragma untuk makan malam sebelum kami kembali ke Jakarta. Melihat kondisi Pragma yang cukup stabil membuatku yakin bahwa kunjungan kami ke puncak membuatnya jauh lebih baik. Karena, biasanya Alter ego alih-alih kepribadiannya yang lain sering hadir begitu saja. Namun, perkiraanku ternyata salah besar.

Langkah kakiku berhenti ketika melihat Pragma berdiri di depan dua orang yang sedang bertengkar di hadapannya. Seorang perempuan paruh baya sedang bertengkar dengan seorang anak kecil yang tampaknya adalah anak dari perempuan paruh baya itu. Ketika melihat kejadian itu, aku langsung teringat ucapan Dokter Zya tentang betapa sensitifnya hal ini, bahkan bisa jadi memicu Pragma merasakan kejadian seperti masa lalunya yang di perlakukan semena-mena oleh Ibu tirinya.

Tidak banyak orang yang ada di tempat itu, karena posisiku saat ini sedang berada di ruang belakang rumah makan tempat kami singgah. Aku menyentuh pundak Pragma, yang ketika aku menyentuhnya membuatku bergidik.

“Pra, kamu baik-baik saja?” ucapku pelan.

 

Dan setelah itu, aku berusaha untuk melerai pertengkaran yang terjadi antara perempuan paruh baya dan anaknya itu. Tidak banyak yang bisa kulakukan, saat ini yang paling penting adalah kondisi Pragma yang berubah setelah melihat kejadian tadi.

“Pra...,” aku menyentuh kedua sisi bahunya,”Jawab aku. Kamu baik-baik saja’ kan?”.

            Pra mengacak rambutnya dengan kedua tangannya seperti menahan rasa sakit. Ia kemudian mendekatiku dan menyentuh kepalaku dengan tangannya.

“Alectya...” ucap Pragma lirih sambil terus menatapku. Aku berusaha bersikap biasa- biasa saja, walaupun aku tahu ada yang tidak beres dengan Pragma sekarang.

“Pra..,” ucapku setengah ketakutan setelah melihat Pragma yang mulai berbeda. Kedua matanya memerah bagaikan menahan amarah yang sudah memuncak, suaranya yang semula masih terdengar halus berubah menjadi berat dan penuh penekanan pada setiap kalimat yang keluar dari dalam mulutnya.

Aku berusaha menjauh dari Pragma yang kini kuyakini sudah bukan lagi dirinya, melainkan identitasnya yang lain sudah menguasai tubuhnya.

“Kau bisa menebak siapa aku?”.

 

Aku menutup mataku, berusaha menahan air mataku.”K...kamu siapa?” ucapku gelagapan.

“Kau tidak takut padaku, Alectya?”. “Kumohon, pergilah dari tubuhnya, Gerion!”.

Gerion menarik rambutku dengan tangannya, membuatku kesakitan. Aku berusaha menahan rasa sakit itu, karena jika aku berteriak seluruh orang akan menganggap Pragma seorang penjahat dan aku tidak ingin itu terjadi. Karena yang sebenarnya ada di balik tubuh Pragma adalah Gerion—alter ego yang selama ini tidak pernah kuharapkan hadir di dalam tubuh kekasihku. Semua ini terjadi karena Pragama melihat pertengkaran perempuan paruh baya itu bersama dengan anaknya, hal ini membawanya pada kejadian sewaktu ia kecil dulu.

“Gerion, jangan lakukan ini. Aku mohon padamu,” ucapku ketika tubuhku sudah berada di ujung lorong tangga yang siap menanti tubuhku. Karena jika Gerion mendorong tubuhku, mungkin saja aku tidak akan selamat.

Gerion tertawa. Ia menatap wajahku lalu menyeringai, wajah itu bukanlah wajah laki- laki yang aku cintai. Pragma berubah menjadi seseorang yang menakutkan bagiku. Aku menangis sejadi-jadinya, yang ada di dalam pikiranku hanya tentang bagimana aku bisa melawan makhluk ini sendirian?

“Kau tau, Pragma tidak pernah benar-benar mencintaimu!” ucap Gerion. “Kamu bohong! Pragma sangat mencintaiku!”.


“Jika dia mencintaimu, seharusnya aku tidak ada di dalam tubuhnya saat ini. Ya, kau tau, itu karena dia tidak pernah benar-benar ingin melindungimu. Buktinya saja, aku bisa menguasai tubuhnya,” ucap Gerion sambil tertawa.

“Baiklah, jika kamu memang ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang!”.

 

Mungkin malam ini akan menjadi malam terakhirku hidup sebagai seorang perempuan yang begitu bodoh karena merelakan nyawanya sendiri mati di tangan kekasihnya. Ini memang terdengar gila dan tidak masuk akal, Pragma yang seperti di rasuki makhluk mengerikan tega mencelakai diriku.

“Pragma akan jauh lebih suka jika kau mati saja, Alectya.”

 

Aku memejamkan mataku,”Lakukanlah apa yang membuatmu senang, Gerion.”

 

Dan, setelah kalimat itu, aku tidak lagi merasakan tubuhku. Aku seperti melayang dan jatuh kedalam lubang yang selama ini sudah siap melahap tubuhku yang malang ini. Lalu, ketika aku membuka mataku, semua orang mengelilingiku dan menatapku tragis. Aku tidak bisa merasakan tubuhku sendiri, kedua mataku hanya bisa mencari-cari keberadaan Pragma. Pra, kembalilah, batinku.

Apa aku kehilangan Pragma untuk selamanya? Kalimat itu kini mengisi kepalaku sejak kejadian satu bulan yang lalu. Kejadian yang hampir merenggut nyawaku. Setelah kejadian itu, Pragma seolah lenyap di telan bumi. Aku tidak menemukannya di rumahnya, tempat biasa ia menghabiskan waktu akhir pekan dan tempat yang sering kami kunjungi bersama. Selama satu bulan, aku memang di rawat secara intensif di rumah sakit dan selama itu pula Pragma merencakan kepergiannya untuk tidak lagi menemuiku. Aku hanya menerima secarik kertas yang ia titipkan dengan Ibuku.

Dadaku rasanya sesak sekali ketika menerima surat yang bisa jadi tanda akhir dari hubungan kami. Surat itu berisi tulisan tangan Pragma yang ketika pertama kali kulihat, aku sudah tahu ia menulisnya dengan niat sekali. Ia menulisnya dengan sangat rapi dan indah sekali. Begini surat itu tertulis;

Untukmu, Alectya. Bagaimana kabarmu? Aku berharap, kamu akan segara bangun dari tidur panjangmu. Maaf, karena aku tidak bisa menemanimu sampai kamu benar-benar sembuh. Karena, setiap kali aku melihatmu terbaring di rumah sakit, membuatku semakin merasa bersalah. Aku tidak pantas untuk menjadi seseorang yang kamu cintai, bahkan kamu


terlalu sempurna untukku yang menyimpan sejuta ke anehan di dalam diriku. Jika aku membiarkanmu hidup bersamaku dengan kondisiku yang seperti ini, itu tandanya aku egois. Aku benar-benar beruntung mengenalmu, Alectya. Ketika aku merasa hidupku tidak di butuhkan di dunia ini, kamu hadir sebagai satu-satunya alasanku untuk bertahan. Meskipun pada akhirnya aku harus kehilangan alasanku untuk bertahan hidup, aku tidak yakin akan bertahan berapa lama tanpa kehadiranmu di sampingku. Tapi aku selalu berusaha baik-baik saja di sini, aku percaya perpisahan kita ini kenangan yang tidak akan termakan waktu. Kamu boleh saja melupakanku ketika menemukan laki-laki lain, tapi aku, rasanya tidak akan pernah bisa. Jaga dirimu baik-baik, ya? Terima kasih untuk empat tahun yang begitu berarti bagiku. Aku merindukanmu, maafkan aku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Tubuhku rasanya lemah seketika membaca surat yang Pragma tulis untukku. Bagaimana ia bisa hidup seorang diri di luar sana? Apa dia akan baik- baik saja tanpaku? Air mataku jatuh membasahi surat itu, lalu aku menemukan selembar fotoku dengan Pragma di puncak waktu itu. Tetulis kalimat di belakang foto itu; aku berharap kita bisa bertemu di kehidupan yang lain—Pragma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Tenggelam

Tenggelam “Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak menyukaimu, tapi karena dia mencintaimu”. Kalimat itu keluar dari mulut Diana—sahab...