Minggu, 20 September 2020

Cerpen : Tenggelam

Tenggelam


“Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak menyukaimu, tapi karena dia mencintaimu”.

Kalimat itu keluar dari mulut Diana—sahabatku sekaligus rekan kerjaku di sebuah motel yang terletak di tengah-tengah pulau yang jauh dari perkotaan. Biasanya beberapa pelaut sering kali singgah untuk sekadar menikmati jamuan makan malam atau mencari tempat untuk istirahat. Aku sudah bekerja di pulau ini sejak lulus SMA atau lebih tepatnya ketika Ibuku dengan sengaja mengirimku ke tampat terpencil ini. Aku tahu  keluargaku sedang butuh uang, tapi mengirimku ke tempat ini adalah hal yang paling aku benci sebelumnya.

“Dia jelas-jelas meninggalkanku, tandanya dia tidak peduli, Diana,” ucapku setelah selesai mencuci piring di dapur.

Diana melepaskan celemeknya.”Kamu salah, Marrien. Menurutku, wajar saja dia meninggalkanmu. Karena, yang ingin memilikimu tidak hanya dia saja.”

Seseorang yang sedang kami bicarakan ini adalah Minke—pria yang memiliki hubungan cukup dekat denganku. Karena, sejak awal kehadiranku di pulau ini, ia termasuk orang yang paling sering membantuku, apapun itu. Hingga aku menemukan sebuah fakta bahwa ia menghilang sehari setelah kami saling jujur tentang apa yang sudah kami rasakan selama lima tahun bersama tanpa status. Minke menghilang sudah hampir dua bulan, aku bahkan tak tahu ia sekarang berada dimana atau sedang bersama siapa. Setiap saat aku selalu berpikir bahwa kepergiannya adalah sesuatu yang ia sengaja lakukan, namun Diana selalu mengatakan padaku bahwa kepergian Minke adalah salah satu bukti untuk membuatku tetap aman.

“Apa kamu lupa, Mar?” ucap Diana.”Pelaut yang waktu itu hampir saja menculikmu, kamu lihat betapa beringasnya Minke menghajar pelaut itu,” kalimat itu membuatku menoleh kearah Diana.

“Ya, aku tau. Lalu?”.

 

“Itu tandanya Minke sangat mencintaimu, dia tidak ingin ada orang lain yang menganggumu. Boleh jadi, kepergiannya ini untuk membuatmu baik-baik saja. Seharusnya kamu juga sadar, jika kalian masih bersama, tidak hanya kamu saja yang di ganggu tapi Minke juga.”

Aku ingat betul kala itu, malam dimana Minke hampir saja di bunuh oleh seorang nahkoda yang mencoba menggangguku. Ketika itu yang ada di dalam pikiranku hanya; bagaimana cara untuk mengentikan pertengkaran antara dua lelaki yang sudah kalap itu? Seluruh orang menyalahkanku, terlebih pemilik pulau yang hampir saja mengusirku. Tapi, berkat Minke pula aku selamat. Minke seperti pangeran yang siap pasang badan untuk menyelamatkanku, namun kini aku telah kehilangannya. Dimana kamu sekarang, Minke?

Malam-malam yang kulewati seorang diri rasanya begitu hampa. Setiap malam, aku duduk di bibir pantai sembari memperhatikan lautan, barangkali Minke akan datang dengan sebuah kapal pesiar besar yang sejak dulu selalu ia impikan. Ia pernah berkata padaku, begini;

“Aku ingin memiliki kapal pesiar yang mewah, Mar,” ujarnya. “Untuk siapa?”

“Untukmu dan untukku. Untuk kita bersama,” jawabnya.

 

Penantianku rupanya masih belum terwujud hingga malam ini, tepat tiga bulan Minke menghilang. Segala hal sudah aku lakukan, mulai dari bertanya dengan rekan kerjanya sesama kru kapal tempat mereka bekerja, jawabannya juga tak ada yang tahu keberadaannya. Salah seorang temannya bernama Baron, mengatakan bahwa ia melihat Minke pergi ke pelabuhan pada dini hari bersama dengan beberapa orang. Baron mengatakan bahwa Minke masuk ke dalam kapal bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah ia temui itu. Aku berpikir Minke telah di culik dan aku adalah penyebab kehidupannya menjadi rumit.

“Marrien!” seseorang memanggilku dari arah belakang.

“Kamu rupanya Baron?” ucapku ketika mendapati Baron menghampiriku,”Ada apa?”. 

“Aku dapat kabar dari temanku, dia bilang Minke berada di kapal yang sama dengannya,” ucap Baron.

“Benarkah? Lalu, bagaimana?” ucapku penuh semangat.


“Besok pagi, kapal itu akan singgah ke pulau ini. Itu kesempatan yang bagus untuk mencari keberadaan Minke, aku curiga ada orang jahat yang sengaja menyembunyikan Minke.”

Dan setelah itu, pagi-pagi sekali aku memperhatikan pelabuhan yang sudah di isi oleh kapal pesiar yang cukup besar. Apa yang di katakan Baron tadi malam rupanya benar-benar terjadi, bagaimana pun caranya aku harus bisa masuk ke dalam kapal itu dan menemukan Minke. Beruntung aku memiliki wajah yang mempesona, sehingga mudah saja bagiku untuk merayu para pelaut sialan yang mungkin saja telah menyembunyikan Minke. Aku bahkan tak perlu susah-susah menarik perhatian mereka, justru merekalah yang datang menawarkan minuman padaku. Kesempatan bagus.

“Mimpi apa aku semalam, bisa duduk bersama perempuan secantikmu, Mar,” ucap pelaut yang aku ketahui bernama Bargaz itu. Sebelumnya, Bargaz juga sempat berselisih paham dengan Minke. Dan, tentu saja itu semua terjadi karena diriku.

“Sudah menjadi pekerjaanku melayani pengunjung,” jawabku.

“Hanya saja aku takut akan ada yang menghajarku lagi?” ucap Bargaz.

Aku mulai curiga, kenapa ia tiba-tiba mengarahkan pembicaraan seolah-olah menyiratkan sesuatu.”Oh, kamu ingin bertemu dengan Minke?” ucapku.

Bargaz mengalihkan pandangannya, aku bisa melihat betapa tatapan itu menyimpan kegelisahan.

“Tapi kamu tidak perlu takut. Minke sudah hilang entah kemana dan aku ingin mencari penggantinya,” ucapku.

“Sungguh?” ucap Bargaz sembari menampilkan senyumannya.

“Ya, tentu saja. Aku sudah bosan berada di tempat ini, seandainya ada orang yang bisa mengajakku keluar dari tempat ini, aku ingin segera angkat kaki.”

Tak hanya mengumpulkan barang-barangku saja, tetapi aku juga  harus mengumpulkan seluruh keberanian untuk bisa menemukan Minke. Aku tak bisa menjamin nyawaku aman-aman saja ketika masuk ke dalam kapal itu, bisa jadi ketika aku ikut bersama Bargaz yang kudapat justru penyiksaan. Aku tahu ini tak mudah, Diana dan Baron hanya memperhatikanku dari ambang pintu kamar, berulang kali mereka mengatakan untuk tetap tinggal di pulau sampai Minke kembali pulang. Namun, itu bukanlah pilihan, keputusanku sudah mutlak.

“Semoga kamu berhasil, Mar,” ucap Diana sambil memegang tanganku dengan erat, ia seolah menyiratkan segenap kekhawatiran padaku.

“Temukan Minke dan kembalilah ke pulau dengan selamat,” tambah Baron.

                Bargaz telah menungguku di pelabuhan, ia tampak girang sekali. Aku melangkahkan kaki menuju kapal yang seolah siap menelan tubuhku hidup-hidup. Mungkin akan kutemukan nyawaku yang hilang di dalam kapal itu, Minke, aku datang untuk menjemputmu. Lalu, untuk terakhir kalinya aku menatap pulau yang sudah memberiku banyak cerita. Aku melambaikan tangan kearah Diana dan Baron yang masih berdiri di pelabuhan.

Akan sulit jika aku dengan terang-terangan bertanya tentang Minke kepada kru kapal yang ada di sini. Mungkin juga mereka sudah di beri peringatan oleh Bargaz untuk tak mengatakan apapun padaku. Aku memutuskan untuk mencari Minke sendiri.

“Boleh aku berkeliling?” tanyaku pada Bargaz yang sejak tadi berdiri di sampingku.

 “Akan kutemani,” ucapnya.

“Kamu ini sudah seperti bodyguard-ku saja,” ucapku sambil meliriknya,”Aku ingin berkeliling sendiri, bisa?”.

Bargaz tersenyum tipis,”Baiklah. Tapi jangan terlalu jauh, jangan berani pergi ke arah belakang kapal. Di sana tempat para pemberontak,” jelas Bargaz.

“Pemberontak?” ucapku bingung.

“Mereka yang sengaja ingin kabur dari dalam kapal.”

Tentu aku semakin penasaran dengan tempat itu, barangkali Minke di sembunyikan Bargaz di sana. Aku melangkah dengan penuh hati-hati, karena jujur saja kru kapal yang ada di sini benar-benar menyebalkan.

“Siapa kamu!” teriak seorang dari arah belakang.

Sial! Lagi-lagi salah satu kru kapal menganggu aksiku. 

“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.

“A-aku hanya berkeliling,” jawabku seadanya.

 

Kru kapal itu menatap wajahku dengan cukup lama, lalu kemudian ia menarik tanganku dan membawaku ke dalam kabin.

“Kenapa lama sekali?” ucap kru kapal itu padaku, aku tentu semakin bingung. 

“Maksudmu?” tanyaku heran.

“Aku temannya Baron,” jawabnya.”Ah, ya, kenalkan namaku Raul.”

 

Aku hampir saja berteriak setelah mengetahui kru kapal itu ternyata adalah teman

Baron.“Dimana kamu melihat Minke?” tanyaku.

           Raul membisikan sesuatu padaku,”Minke berada di ruangan bawah kapal. Di tempat para pemberontak. Ia sengaja di culik, Mar.”

“Aku harus ke tempat itu!” ucapku.

“Tidak semudah itu. Kamu tahu, Bargaz punya kekuasaan di kapal ini. Dia bisa saja membuat Minke celaka atau bahkan melukaimu,” jelas Raul.

“Lalu, aku harus bagaimana? Aku ingin bertemu dengan Minke sekarang.”

 

Raul mengarahkanku untuk pergi ke area bawah kapal, karena di sana Minke berada. Bargaz sengaja menculik Minke dan menjadikannya budak. Aku memperhatikan sekeliling, berharap Bargaz sedang tidak mengawasiku. Dengan langkah penuh keyakinan, aku menyelinap masuk ke dalam sebuah ruangan yang sebelumnya Raul katakan. Ia bilang di area bawah kapal terdapat ruangan yang di penuhi oleh orang-orang yang tidak patuh kepada Bargaz atau yang Bargaz biasa sebut pemberontak.

Tanganku menyentuh ganggang pintu yang sudah berkarat itu, lalu membukanya perlahan. Kedua mataku langsung di sambut dengan segerombol orang yang duduk di ubin kapal dengan pakaian lusuh, bahkan aku melihat seorang anak kecil yang kurus sekali, Bargaz memang manusia biadab! Aku tak berhenti memaki laki-laki itu dalam hati. Semua orang yang ada di ruangan itu kebingungan ketika aku masuk, barangkali mereka berpikir aku korban Bargaz yang kesekian kalinya? Mungkin.


“Nona, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya salah seorang laki-laki yang usianya kira-kira lima puluh tahun.

“Aku sedang mencari seseorang,” jawabku.

 

“Tapi kamu tidak bisa masuk ke tempat ini begitu saja,” ucap laki-laki itu.”Atau, Bargaz akan memberimu pelajaran,” tambahnya.

Aku berlalu begitu saja, seolah tak ingin mendengar konsekuensi yang akan aku dapatkan setelah melakukan tindakan yang cukup berisiko ini. Ruangan yang kumuh itu tak hanya menyembunyikan Minke, tetapi juga orang-orang yang kuyakini tak pantas di hukum ini. Dua jam berada di ruangan ini juga masih belum mampu membuatku menemukan keberadaan Minke, lantas yang ada dalam pikiran hanya; apa Minke benar-benar masih  hidup atau Minke sengaja bersembunyi dariku? Aku duduk di samping pintu sembari memperhatikan orang-orang yang sebenarnya menderita namun berusaha baik-baik saja di dalam ruangan terkutuk ini. Beruntung, sedari tadi aku tak menemui Bargaz mungkin pula laki-laki itu tak peduli dengan apa yang aku lakukan.

“Kamu sedang mencari seseorang?” celetuk perempuan paruh baya dengan jubah hitam di sampingku, aku cukup terkejut seketika melihat penampilan perempuan itu.

“Ya,” jawabku singkat.”Apa aku terlihat seperti mencari seseorang?”.

“Tentu saja, aku bisa melihat itu dari sorot matamu.”

Perempuan paruh baya itu bernama Jellina, seorang ahli kartu tarot yang sebenarnya salah satu penumpang kapal dalam perjalanan menuju perkotaan. Namun, sialnya kapal yang ia tumpangi mengalami pembajakan oleh kapal Bargaz. Ia terpisah dengan suaminya yang kini ia sendiri bahkan tak tahu apakah suaminya selamat atau tidak.

“Apa kamu pernah melihat seorang laki-laki, kira-kira berusia dua puluh lima tahun, matanya sipit dan memiliki lesung pipi?” tanyaku.

Jellina meletakkan kartu tarotnya, lalu menatapku.”Aku tidak yakin, tapi aku pernah melihatnya sesekali. Dia sangat pendiam dan tidak pernah mau bergabung bersama kami, coba kamu pergi ke bilik kamar paling akhir,” ucapnya.

“Baiklah, terima kasih.”


Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju bilik kamar yang Jellina katakan. Ketika aku tiba di depan bilik kamar itu, aku bisa mendengar seseorang sedang bernyanyi persis seperti yang sering kali Minke lakukan setiap kali menungguku selesai bekerja. Aku menemukanmu, Minke! Batinku.

Beberapa saat setelah aku membuka pintu kamar itu. Kedua mata yang saling merindu itu tak mampu menahan segala bentuk perasaan sedih, marah, senang dan bahkan kekecewaan semua melebur menjadi satu rasa. Minke duduk di atas tempat tidurnya sambil mendengarkan lagu dari walkman milikku yang sengaja kuberikan padanya di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga tahun kala itu.

“Marrien? Kenapa kamu bisa ada di sini?” Minke beranjak dari tempat tidurnya, lalu memegang kedua pundakku.”Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Aku memeluk tubuh Minke, menenggelamkan seluruh perasaan rinduku padanya, membiarkan air mataku membasahi pundaknya.”Aku merindukanmu, Minke!” pekikku.

“Tidak apa, aku di sini. Aku bersamamu,” ucap Minke yang berusaha menenangkanku.

Tak cukup hanya dengan berdiam diri di dalam kapal ini, setelah mendengar betapa liciknya Bargaz yang sengaja menculik Minke dan membawanya dengan paksa. Belum lagi perilakunya yang semena-mena terhadap kru kapal dan pekerja lainnya. Maka tak perlu heran jika banyak pemberontak di dalam kapal ini, mereka menjadi pemberontak karena untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri dari Bargaz.

“Sebentar lagi Bargaz pasti akan mencarimu,” celoteh Jellina.

Aku dan Minke duduk bersama Jellina sambil melihat perempuan itu memainkan kartu tarot miliknya, bahkan beberapa orang yang ada di ruangan ini kerap kali meminta Jellina untuk meramal kehidupan mereka.

“Mungkin Bargaz juga akan menjadikanku pemborantak, itu tidak masalah,” jawabku. 

Jelline tersenyum.”Kalian, pilihlah satu kartu,” pintanya.


Minke menatapku,”Pilih lah,” ucapnya.


Aku mengambil salah satu kartu,”Ini,” ucapku lalu memberikan kartu itu kepada

Jellina.

 

Jellina menatapku dan Minke bergantian,”The Wheel of Fortune. Kalian akan menemukan takdir yang membawa kalian pada akhir masalah, namun aku tidak yakin apakah gerakan ini membawa kalian pada kebahagiaan atau rasa sakit?” ucapnya.

Brak! Tiba-tiba saja suara pintu terbuka hingga terdengar sangat nyaring, seperti sengaja di tendang begitu saja. Mataku hampir saja tak percaya, Bargaz berdiri di ambang pintu ruangan dengan beberapa anak buahnya. Tak perlu waktu lama, Bargaz langsung menghampiriku dan juga Minke. Terlihat ia mencoba untuk menahan rasa marahnya, kedua matanya menatapku seperti mengatakan; akan kubunuh kamu!

“Bawa laki-laki ini keluar!” perintah Bargaz kepada anak buahnya.

 

Aku menarik pergelangan tangan Minke,”Jangan bawa dia!” ucapku memohon.

 

“Dan kamu, Marrien! Sini kamu!” Bargaz menarik pergelangan tanganku dengan kasar. Seluruh orang yang ada di dalam ruangan tak tahu harus melakukan apa, mereka hanya diam dan berharap tak akan ada korban selanjutnya yang berhujung pada kematian seperti yang lalu-lalu.

Bargaz menggiring kami menuju bagian stem—linggi haluan atau bagian depan kapal. Minke berdiri tepat di ujung haluan kapal dengan kedua mata tertutup kain. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan anak buah Bargaz, namun aku tak mampu melawan mereka.

“Lakukan apa yang aku perintah!” teriak Bargaz.

 

“Jangan lakukan itu Bargaz, aku mohon!” aku masih berusaha membujuk laki-laki itu untuk tidak mencelakai Minke.”Aku yang salah, bukan dia,” lirihku.

Aku tertunduk lesu, melihat bagimana Minke sudah tak berdaya di sana. Ia seperti membiarkan dirinya mati sia-sia di tangan Bargaz hanya demi menyelamatkanku.

“Tidak masalah jika aku mati, Mar. Kamu tidak perlu menangisiku, aku akan menjadi laki-laki yang paling menyesal di dunia jika membiarkanmu terluka!” ucapnya dengan suara getir.


“Dorong laki-laki brengsek ini sekarang!” perintah Bargaz tanpa mempedulikan permohonanku.

“Tidak!” teriakku dengan nyaring.

 

Aku berlari menuju linggi haluan kapal dan menatap Minke yang mungkin saja masih ada di bawah sana,”Tidak...tidak! Minke jangan tinggalkan aku...” lirihku sambil terus menangis histeris.

“Sudahlah, kamu tak perlu menangisi pecundang itu. Kamu bisa hidup dengan nyaman bersamaku,” ucap Bargaz sembari menampilkan senyuman sialannya itu.

“Akan lebih baik jika aku mati saja, dari pada harus hidup bersama binatang sepertimu. Oh, bahkan, kamu tidak pantas hidup sebagai binatang. Kamu jauh lebih rendah dari sekadar sampah!” ucapku terang-terangan kepada Bargaz.

Lalu, setelah kalimat makian itu kuucapkan pada Bargaz dengan segenap keberanian, aku menjatuhkan tubuhku ke dasar laut bersama dengan sisa-sisa hidupku yang separuhnya telah mati terbawa oleh Minke. Karena, pada akhirnya kematian lah yang menjadi tempat paling aman untukku dan Minke. Seperti yang Jellina katakan, The wheel of Fortune—sebuah roda keberuntungan yang memutar jarum jam, mungkin juga akan naik atau jatuh. Lantas, pada akhirnya takdir yang kupikir akan berakhir baik dan bahagia ternyata tak dapat kutentukan hanya dalam kata-kata. Membiarkan tubuhku tenggelam perlahan-lahan, kedua mataku yang semula menatap langit biru perlahan memudar menjadi gelap dan setelah itu aku merasa tanganku seperti di tarik dari lubang yang barangkali akan membawaku keluar pada kematian.

Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk hidup, Minke?”, 

“Ya, tentu saja, Mar. Aku akan mewujudkan mimpi kita bersama".

Cerpen : Kepribadian Ganda

Kepribadian Ganda

 

Bagaimana jika aku mengatakan bahwa cinta itu hal yang paling menyusahkan dan rumit? Aku yakin, kalian akan setuju. Untuk kali pertama, aku mengenal sekaligus menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang aku temui di pesta ulang tahun sahabatku.  Sahabatku mengenalkan laki-laki ini padaku tanpa sepengetahuanku.

“Bicaralah dengannya, Alectya.” “Maksudmu?” ucapku kebingungan.

“Aku sudah merencanakan ini, jadi kumohon lakukan apa yang aku minta.”

 

Laki-laki itu bernama Pragma. Tampan, tidak banyak bicara, sejauh ini kupikir dia juga romantis, namun terkadang aku bisa saja tidak mengenalnya dengan baik. Karena, setelah hubungan kami berjalan selama tiga tahun, aku menerima fakta mengejutkan bahwa kekasihku itu menderita penyakit Dissociative identity disorder atau yang lebih akrab dengan sebutan kepribadian ganda.

“Akan lebih baik jika aku tidak ada di tempat ini.”

 

Kalimat itu terucap dari mulut Pragma setelah kami selesai makan malam, bukannya menyenangkan yang ada justru sebuah pertanyaan yang aku yakini datangnya bukan dari Pragma. Selama ini aku sering menemani Pragma konsultasi dengan dokter psikiater yang selama ini menanganinya, Dokter Zya—ahli psikiater itu bilang bahwa Pragma memiliki tiga kepribadian di dalam dirinya. Ada saat-saat tertentu yang mampu membuat kehadiran identitas alternatif di dalam tubuh Pragma muncul, yakni ketika ia merasa cemas, marah, sedih dan bahkan emosinya yang tidak terkontrol mampu membuat Pragma berubah menjadi seseorang yang ketika aku melihatnya membuatku sangat ketakutan.

“Dengan siapa aku bicara?” ucapku. “Kamu tentu tau siapa aku,”

“Itu kamu, Magenta?” tanyaku.

 

Malam ini, bayanganku hanya tentang perayaan hari jadi kami yang ke empat tahun. Namun, sebagai seorang perempuan yang rela jatuh cinta pada laki-laki pengidap penyakit


kepribadian ganda ini, membuatku tersadar bahwa hal-hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-sehari dan harus kuterima apapun risikonya.

“Aku tidak suka tempat ini, kamu tau kenapa?”.

 

Aku terdiam, mencoba untuk menebak pertanyaan yang keluar dari mulut kekasihku yang aku tahu itu bukan dirinya yang sebenarnya. Kini aku sedang berbicara dengan Magenta, identitas alternatif itu hadir tanpa di undang dan hal ini cukup membuatku risih.

“Kenapa?” tanyaku. “Tempat ini terlalu berisik.”

Yang ada di dalam pikiranku hanya; apa yang harus aku lakukan ketika ada di situasi ini? Ketika di situasi seperti ini, aku selalu menangis setelahnya. Pragma hanya  terdiam setiap kali aku menangis karena kejadian ini, ia mungkin juga tidak tahu harus melakukan apa. Pernah kala itu ia mengatakan padaku kalimat yang sampai saat ini selalu berenang di dalam kepalaku. Ia berkata,”Jika kamu ingin pergi, pergilah. Aku tidak bisa melihatmu terus menangis karena aku.”

“Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

 

“Bagaimana dengan mereka? Aku takut mereka menyakitimu, Alectya.” “Itu pilihanku.”

Identitas yang ada di dalam tubuh Pragma tidak hanya Magenta saja, ada dua identitas alternatif lagi. Menjalin hubungan dengan Pragma membuatku sedikit belajar tentang penyakit ini. Aku pernah membaca sebuah buku dan di dalam buku itu tertulis; identitas yang ada di dalam tubuh seorang pengidap penyakit kepribadian ganda ini sering kali berbeda-beda dalam perilaku, penampilan, jenis kelamin, umur dan bahkan cara bicaranya. Itulah mengapa aku bisa dengan jelas mengenal siapa saja yang hadir secara tiba-tiba di tubuh Pragma, walau terkadang aku lebih banyak terkejut dan sedikit takut.

Untuk kedua identitas yang aku bicarakan tadi salah satunya juga cukup sering hadir, ia bernama July. Seorang perempuan berusia empat puluh tahun dan gemar membaca buku. Tidak heran, hampir setengah kamar Pragma di isi dengan deretan buku yang tertata rapi  pada setiap raknya.


“Sudah lama aku tidak bicara denganmu, Alectya,” ucapnya padaku ketika melihat aku duduk di ruang baca.

Mungkin kalian akan bingung, mengapa mereka bisa hadir secara tiba-tiba di dalam tubuh Pragma. Aku bahkan jauh lebih kebingungan, karena setiap kali menghadapi situasi ini sama halnya dengan membuatku tidak kuasa menahan perasaan yang entah bagaimana begitu menyakitkan. Aku seperti sedang menghabiskan waktuku dengan sia-sia di dunia ini bersama tiga identitas yang bersembunyi di balik tubuh kekasihku. Karena yang aku butuhkan hanya Pragma. Seutuhnya. Tapi apa boleh buat?

“Hai, July. Apa kabar?” tanyaku yang berusaha terlihat baik-baik saja. “Ya, aku sangat baik.”

Penampilan Pragma kini berbeda, ia memakai outer rajut berwarna brown di tubuhnya, karena identitas alternatif ini adalah July—seorang perempuan. Tidak segan-segan July menyentuh rambutku dan mengikat rambutku menjadi dua bagian. Usia July yang menginjak kepala empat membentuk perilakunya yang sangat ke ibuan. Ia bahkan menganggapku, anaknya sendiri.

“Kamu terlihat sangat cantik, wajar saja Magenta menyukaimu.” “Magenta?” tanyaku.

“Ya, dia bilang pada kami, malam itu dia hadir di makan malammu bersama dengan Pragma. Dia bilang, kamu sangat cantik malam itu.”

Magenta memang sering muncul, terlebih ketika Pragma merasa cemas. Di antara ketiga identitas, menurutku Magenta cukup lucu. Dia memang terkesan jutek dan menyebalkan, padahal sebenanrnya dia sangat baik dan juga lucu. Wajar saja, Magenta ini jika di gambarkan adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Setiap kali ia hadir di dalam tubuh Pragma, tingkah lakunya pun juga akan sama seperti anak kecil berusia tujuh tahun.

“Apa kamu masih akan bersama dengan Pragma?” tanya July.

 

“Apa aku harus menjawab pertanyaan yang keluar dari mulutmu itu?,” jawabku. “Jawab saja.”


“Masih,”

 

“Kamu tidak takut?” tanya July. “Untuk apa?”

July mendekatkan wajahnya padaku, lalu berbisik.”Dia akan datang dan membuatmu terluka, jadi kumohon pergilah sebelum dia datang!”.

“Siapa?” aku berusaha bertanya pada July, walau aku tahu yang ia maksud. “Gerion.”

Setelah mendengar nama itu, aku menangis. Selama ini aku seperti  membiarkan diriku sendiri masuk ke dalam portal yang membawaku terus masuk ke dalam dunia Pragma yang bahkan aku sendiri tidak yakin untuk tetap bertahan atau angkat kaki dari hubungan ini. Setiap kali teman-temanku bertanya mengapa aku masih bertahan padahal aku tahu Pragma tidaklah baik untukku, jawabanku hanya; karena ketika aku melepaskannya, aku tidak yakin akan menemukannya pada diri orang lain.

Tangan yang hangat itu menyentuh bahuku,”Kamu baik-baik saja?”.

 

Aku mengusap air mataku yang sudah membanjiri kedua pipiku dan yang kulakukan ketika mendengar suara itu adalah memeluknya.

“Aku disini, Alectya. Semua baik-baik saja, maaf karena sudah membuatmu merasa tidak nyaman.”

“July bilang padaku, Gerion akan datang,” ucapku sambil terus memeluknya.

 

“Aku tidak akan membiarkan Gerion menguasai tubuhku. Aku janji,” ucap Pragma. “Aku jauh lebih takut dia melukaimu, Pra.”

“Dan aku tidak akan membuatnya hidup di dalam tubuhku.”

 

Barangkali kehadiranku di dalam kehidupan Pragma menjadi satu-satunya penawar baginya. Dokter Zya pernah mengatakan hal ini padaku, ia bilang apa yang sudah Pragma lalui sangatlah berat, terlebih masa lalunya yang kelam. Dari masa lalunya yang kelam itulah, menciptakan dirinya yang sekarang. Perlakuan Ibu tirinya ketika ia kecil, membuat Pragma harus hidup menderita bahkan sampai ia menginjak usia dewasa. Gerion—identitas yang


paling jarang muncul itu adalah cerminan perilaku Ibu tiri Pragma yang memiliki sifat pemarah, kejam dan tidak segan-segan melakukan tindakan kriminal. Beruntung, Pragma masih mampu menahan dirinya untuk tidak di kuasai oleh Gerion. Seperti yang Dokter Zya katakan padaku; jika sesuatu yang terjadi apalagi bersangkutan dengan masa lalu Pragma, tolong jauhkan dia dari hal itu, karena ini bisa membuatnya merasa terancam. Kalimat itu selalu aku ingat, aku tidak ingin hal yang selama ini tidak aku inginkan terjadi. Tidak akan pernah.

Hari ini aku mengajak Pragma untuk pergi ke suatu tempat, barangkali bisa membuatnya merasa jauh lebih baik setelah hampir setiap minggu melakukan pemeriksaan rutin bersama dengan Dokter Zya akhir-akhir ini. Aku sengaja mengajaknya ke puncak, karena aku tahu ia perlu hiburan untuk dirinya sendiri. Setelah menaiki kereta sekitar dua  jam, kami tiba di kebun teh yang ketika pertama melihatnya sudah membuat kedua mata  kami takjub tidak berkedip.

“Indah sekali,” ucapku sambil menggandeng tangan Pragma lalu mengajaknya berkeliling.

Matahari seolah membakar langit yang membuatnya menjadi jingga merona, sesekali aku mengambil potret menggunakan kamera analog yang sengaja aku bawa untuk mengabadikan momen ini. Kuperhatikan wajah Pragma, aku bisa melihat tatapan itu, tatapan yang selama ini pun juga menjadi pertanyaan di dalam kepalaku; apa kamu baik-baik saja? Begitulah kira-kira.

Menyandarkan kepalaku di pundak Pragma membuat lamunannya buyar.”Pra, bagaimana jika justru kamu yang pergi meninggalkanku?” tanyaku.

“Kamu sendiri tau, jika itu terjadi berarti demi kebaikanmu.”

 

“Sejak awal aku mengenalmu, segala yang ada pada dirimu sudah menjadi pilihanku.”

 

Pragma menggenggam erat tanganku.”Maaf, karena aku tidak terlahir sempurna untukmu,” ucapnya.

Ini benar-benar menyiksaku, rasanya sakit sekali setiap kali mendengar Pragma menyalahkan dirinya sendiri. Tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa menyalahkan apa yang terjadi. Aku dan Pragma hanya bisa berharap pada setiap hari-hari yang kami lewati, akan selalu baik-baik saja.


Terlalu banyak hal yang mereka tanyakan padaku setiap kali aku menghadiri acara tahunan bersama alumni teman-teman kampusku, bahkan kalimat yang menurutku tidak pantas keluar pun juga mereka tanyakan; bagaimana rasanya jadi kekasih laki-laki sakit jiwa seperti Pragma? Kalimat itu keluar dari mulut salah satu temanku. Dan, yang aku jawab hanya sebuah senyuman yang sebenarnya memiliki makna jauh lebih besar dari kalimat panjang lebar yang kadang-kadang aku keluarkan setiap kali sudah tidak tahan mendengarnya. Aku tidak peduli pandangan mereka terhadapku ataupun Pragma seperti apa, karena mereka tidak pernah tahu rasanya menjadi aku seperti apa. Pragma selalu mengatakan bahwa aku cukup kuat untuk bertahan dengannya sejauh ini.

Setelah menghabiskan waktu sambil menikmati sunset, aku mengajak Pragma untuk makan malam sebelum kami kembali ke Jakarta. Melihat kondisi Pragma yang cukup stabil membuatku yakin bahwa kunjungan kami ke puncak membuatnya jauh lebih baik. Karena, biasanya Alter ego alih-alih kepribadiannya yang lain sering hadir begitu saja. Namun, perkiraanku ternyata salah besar.

Langkah kakiku berhenti ketika melihat Pragma berdiri di depan dua orang yang sedang bertengkar di hadapannya. Seorang perempuan paruh baya sedang bertengkar dengan seorang anak kecil yang tampaknya adalah anak dari perempuan paruh baya itu. Ketika melihat kejadian itu, aku langsung teringat ucapan Dokter Zya tentang betapa sensitifnya hal ini, bahkan bisa jadi memicu Pragma merasakan kejadian seperti masa lalunya yang di perlakukan semena-mena oleh Ibu tirinya.

Tidak banyak orang yang ada di tempat itu, karena posisiku saat ini sedang berada di ruang belakang rumah makan tempat kami singgah. Aku menyentuh pundak Pragma, yang ketika aku menyentuhnya membuatku bergidik.

“Pra, kamu baik-baik saja?” ucapku pelan.

 

Dan setelah itu, aku berusaha untuk melerai pertengkaran yang terjadi antara perempuan paruh baya dan anaknya itu. Tidak banyak yang bisa kulakukan, saat ini yang paling penting adalah kondisi Pragma yang berubah setelah melihat kejadian tadi.

“Pra...,” aku menyentuh kedua sisi bahunya,”Jawab aku. Kamu baik-baik saja’ kan?”.

            Pra mengacak rambutnya dengan kedua tangannya seperti menahan rasa sakit. Ia kemudian mendekatiku dan menyentuh kepalaku dengan tangannya.

“Alectya...” ucap Pragma lirih sambil terus menatapku. Aku berusaha bersikap biasa- biasa saja, walaupun aku tahu ada yang tidak beres dengan Pragma sekarang.

“Pra..,” ucapku setengah ketakutan setelah melihat Pragma yang mulai berbeda. Kedua matanya memerah bagaikan menahan amarah yang sudah memuncak, suaranya yang semula masih terdengar halus berubah menjadi berat dan penuh penekanan pada setiap kalimat yang keluar dari dalam mulutnya.

Aku berusaha menjauh dari Pragma yang kini kuyakini sudah bukan lagi dirinya, melainkan identitasnya yang lain sudah menguasai tubuhnya.

“Kau bisa menebak siapa aku?”.

 

Aku menutup mataku, berusaha menahan air mataku.”K...kamu siapa?” ucapku gelagapan.

“Kau tidak takut padaku, Alectya?”. “Kumohon, pergilah dari tubuhnya, Gerion!”.

Gerion menarik rambutku dengan tangannya, membuatku kesakitan. Aku berusaha menahan rasa sakit itu, karena jika aku berteriak seluruh orang akan menganggap Pragma seorang penjahat dan aku tidak ingin itu terjadi. Karena yang sebenarnya ada di balik tubuh Pragma adalah Gerion—alter ego yang selama ini tidak pernah kuharapkan hadir di dalam tubuh kekasihku. Semua ini terjadi karena Pragama melihat pertengkaran perempuan paruh baya itu bersama dengan anaknya, hal ini membawanya pada kejadian sewaktu ia kecil dulu.

“Gerion, jangan lakukan ini. Aku mohon padamu,” ucapku ketika tubuhku sudah berada di ujung lorong tangga yang siap menanti tubuhku. Karena jika Gerion mendorong tubuhku, mungkin saja aku tidak akan selamat.

Gerion tertawa. Ia menatap wajahku lalu menyeringai, wajah itu bukanlah wajah laki- laki yang aku cintai. Pragma berubah menjadi seseorang yang menakutkan bagiku. Aku menangis sejadi-jadinya, yang ada di dalam pikiranku hanya tentang bagimana aku bisa melawan makhluk ini sendirian?

“Kau tau, Pragma tidak pernah benar-benar mencintaimu!” ucap Gerion. “Kamu bohong! Pragma sangat mencintaiku!”.


“Jika dia mencintaimu, seharusnya aku tidak ada di dalam tubuhnya saat ini. Ya, kau tau, itu karena dia tidak pernah benar-benar ingin melindungimu. Buktinya saja, aku bisa menguasai tubuhnya,” ucap Gerion sambil tertawa.

“Baiklah, jika kamu memang ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang!”.

 

Mungkin malam ini akan menjadi malam terakhirku hidup sebagai seorang perempuan yang begitu bodoh karena merelakan nyawanya sendiri mati di tangan kekasihnya. Ini memang terdengar gila dan tidak masuk akal, Pragma yang seperti di rasuki makhluk mengerikan tega mencelakai diriku.

“Pragma akan jauh lebih suka jika kau mati saja, Alectya.”

 

Aku memejamkan mataku,”Lakukanlah apa yang membuatmu senang, Gerion.”

 

Dan, setelah kalimat itu, aku tidak lagi merasakan tubuhku. Aku seperti melayang dan jatuh kedalam lubang yang selama ini sudah siap melahap tubuhku yang malang ini. Lalu, ketika aku membuka mataku, semua orang mengelilingiku dan menatapku tragis. Aku tidak bisa merasakan tubuhku sendiri, kedua mataku hanya bisa mencari-cari keberadaan Pragma. Pra, kembalilah, batinku.

Apa aku kehilangan Pragma untuk selamanya? Kalimat itu kini mengisi kepalaku sejak kejadian satu bulan yang lalu. Kejadian yang hampir merenggut nyawaku. Setelah kejadian itu, Pragma seolah lenyap di telan bumi. Aku tidak menemukannya di rumahnya, tempat biasa ia menghabiskan waktu akhir pekan dan tempat yang sering kami kunjungi bersama. Selama satu bulan, aku memang di rawat secara intensif di rumah sakit dan selama itu pula Pragma merencakan kepergiannya untuk tidak lagi menemuiku. Aku hanya menerima secarik kertas yang ia titipkan dengan Ibuku.

Dadaku rasanya sesak sekali ketika menerima surat yang bisa jadi tanda akhir dari hubungan kami. Surat itu berisi tulisan tangan Pragma yang ketika pertama kali kulihat, aku sudah tahu ia menulisnya dengan niat sekali. Ia menulisnya dengan sangat rapi dan indah sekali. Begini surat itu tertulis;

Untukmu, Alectya. Bagaimana kabarmu? Aku berharap, kamu akan segara bangun dari tidur panjangmu. Maaf, karena aku tidak bisa menemanimu sampai kamu benar-benar sembuh. Karena, setiap kali aku melihatmu terbaring di rumah sakit, membuatku semakin merasa bersalah. Aku tidak pantas untuk menjadi seseorang yang kamu cintai, bahkan kamu


terlalu sempurna untukku yang menyimpan sejuta ke anehan di dalam diriku. Jika aku membiarkanmu hidup bersamaku dengan kondisiku yang seperti ini, itu tandanya aku egois. Aku benar-benar beruntung mengenalmu, Alectya. Ketika aku merasa hidupku tidak di butuhkan di dunia ini, kamu hadir sebagai satu-satunya alasanku untuk bertahan. Meskipun pada akhirnya aku harus kehilangan alasanku untuk bertahan hidup, aku tidak yakin akan bertahan berapa lama tanpa kehadiranmu di sampingku. Tapi aku selalu berusaha baik-baik saja di sini, aku percaya perpisahan kita ini kenangan yang tidak akan termakan waktu. Kamu boleh saja melupakanku ketika menemukan laki-laki lain, tapi aku, rasanya tidak akan pernah bisa. Jaga dirimu baik-baik, ya? Terima kasih untuk empat tahun yang begitu berarti bagiku. Aku merindukanmu, maafkan aku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Tubuhku rasanya lemah seketika membaca surat yang Pragma tulis untukku. Bagaimana ia bisa hidup seorang diri di luar sana? Apa dia akan baik- baik saja tanpaku? Air mataku jatuh membasahi surat itu, lalu aku menemukan selembar fotoku dengan Pragma di puncak waktu itu. Tetulis kalimat di belakang foto itu; aku berharap kita bisa bertemu di kehidupan yang lain—Pragma.

Obat Patah Hati

    segala penyakit yang ada di dunia ini, sudah pasti ada obatnya. tapi untuk patah hati, obatnya sulit sekali untuk di temukan. barangkali seperti, menghapus tinta yang mengenai kain putih. ya, memang akan hilang, tetapi akan selalu membekas. sama seperti hati, jika sudah perkara patah, untuk sembuh pun juga perlu waktu. aku pernah patah, pun denganmu. kita pernah sama-sama patah hati dan aku menikmati itu. walau perlu waktu yang panjang untukku kembali utuh. seseorang pernah berkata padaku, begini; laki-laki itu banyak. kamu tidak perlu membuang waktumu hanya demi satu laki-laki. bermiliar-miliar manusia, kenapa harus menetap di satu laki-laki yang belum tentu mampu membuatmu bahagia? setelah menerima kalimat itu, aku mengerti apa yang ia maksud. aku memikirkan setiap kata-kata itu di dalam kepalaku, tapi hatiku? tidak. tidak akan mudah. 

    bahkan sampai detik ini, ketika aku menulis kalimat ini, aku masih memikirkan laki-laki itu. mungkin pula, alasanku menulis ini adalah dirinya. karena bagiku, dia adalah pemantik yang selalu menjadi sumber segala ideku. kehilangannya menjadi pembelajaran yang begitu berharga sekaligus menyakitkan. menjatuhkan hatiku selama lebih dari sepuluh tahun padanya bukanlah hal yang mudah, aku seperti membiarkan tubuhku masuk ke dalam portal yang sengaja menelanku hidup-hidup dan bahkan tanpa jawaban. jika kamu bertanya adakah penyembuh untuk patah hati? aku bahkan tidak tahu sampai detik ini. 

    aku sudah kehilangannya bahkan sejak hari dimana aku memilih untuk mengakhiri segalanya. mungkin juga dia bahagia, karena akhirnya aku merasakan apa yang dulu sempat ia rasakan. apa yang aku dapatkan, rasakan, boleh jadi hukuman. karena, aku pernah sengaja mematahkan harapan-harapan yang ia buat untukku. 

    terkadang, kita perlu untuk menyelamatkan diri kita sendiri. siapa lagi yang harus menyelamatkan diri kita sendiri, kalo bukan kita? karena, jika kamu kehilangan dirimu, kamu telah mematahkan segalanya. 

Cerpen : Tenggelam

Tenggelam “Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak menyukaimu, tapi karena dia mencintaimu”. Kalimat itu keluar dari mulut Diana—sahab...